Shanty mengungkapkan, dukungan dari pemerintah yang seharusnya bertambah atau setidaknya sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kini malah berkurang. Biasanya pemerintah menyumbang hingga 30 persen total anggaran Jiffest. “Dari Menbudpar nol rupiah. Sumbangan tertinggi pernah kita terima dari pemda tahun 2005 lalu yaitu sebesar Rp 1,2 miliar. Itu pun didapat dengan penuh perjuangan,” jelasnya lagi.
Menurut Shanti, memperoleh dana dari swasta pun tergolong rumit. Pertimbangan profit dan perpindahan venue, membuat para sponsor “ogah-ogahan” menyokong Jiffest karena dinilai tidak efektif dalam mengekspos brand mereka. “Kita kesulitan karena venue atau bioskop yang berpindah-pindah. Berbeda dengan konser musik, permasalahan festival film memang soal tempat karena bioskop pun punya kepentingan bisnis sendiri. Sedangkan bagi sponsor hal ini tidak efektif mengekspos brand mereka,” tambahnya.
Hingga kini, dana yang terkumpul untuk pelaksanaan acara baru sekitar Rp 1 miliar. Padahal, umumnya untuk penyelenggaraan tiap tahunnya dibutuhakan sekitar Rp 2 miliar. Sangat disayangkan jika acara yang telah berjalan 12 tahun ini menjadi kurang greget atau bahkan ditunda karena masalah klasik semacam ini.
No comments:
Post a Comment